Minggu, 11 Agustus 2013

Kasta dalam Agama Hindu



KASTA HINDU

Sistem Kasta di Bali hingga saat ini bagi umat Hindu khususnya di Indonesia (Bali) masih mengalami berbagai polemik. Hal ini menyebabkan ketidaksetaraan status sosial masyarakat Hindu.  Istilah kasta timbul dalam masyarakat Hindu karena proses sosial (perkembangan masyarakat) yang mengaburkan pengertian warna dimana melahirkan tradisi kasta yang membagi tingkatan seseorang di masyarakat berdasarkan status keluarga atau kelahirannya.
Terdapat 4 golongan kasta dalam agama Hindu :
1.       Kasta Brahmana (Kasta tertinggi)
Tugas : Menjalankan Upacara-upacara keagamaan/ menjalankan kependetaan
Biasanya seseorang yang berasal dari keturunan kasta brahmana akan memiliki nama depan (Ida Bagus (untuk laki-laki) dan Ida Ayu (untuk perempuan)
Tempat tinggal : Griya
2.       Kasta Ksatria
Kasta ini merupakan kasta yang memiliki posisi yang sangat penting dalam pemerintahan dan politik tradisional di Bali, karena pada dasarnya orang-orang ini merupakan keturunan Raja-raja di bali pada zaman kerajaan.
Tugas : Menjalankan pemerintahan
Para raja, bangsawan dan prajurit
Segi nama : Anak Agung, Dewa Agung, Tjokorda dan ada juga yang menggunakan nama Dewa.
Tempat tinggal : Puri
3.       Kasta Waisya
Kasta Waisya merupakan keluarga Puri yang ditempatkan di wilayah yang lain yang statusnya diturunkan dikarenakan melakukan kesalahan.
Segi Nama : I Gusti Ayu, I Gusti Agung, I Gusti Bagus atau I Gusti.
Kasta golongan rakyat jelata (Petani dan pedagang)
Tempat tinggal : Jero
4.       Kasta Sudra (Kasta paling rendah)
Kasta ini mempunyai kedudukan yang paling rendah, dimana masyarakatnya harys berbicara dengan Sor Singgih Basa dengan orang yang kastanya lebih tinggi.
Segi nama : Wayan, Made, Nyoman dan Ketut
Misalnya para budak
Tempat tinggal : Umah

Sejak dahulu para penduduk Bali telah diajari bahwa kasta yang lebih tinggi harus dihormati, sehingga jika berkomunikasi harus menggunakan bahasa Bali yang halus. Tetapi jika berbicara dengan orang berkasta rendah, tidak diwajibkan menggunakan bahasa Bali halus.
Contoh :
Seorang ketua organisasi berkasta Waisya berkomunikasi dengan salah satu anggotanya berkasta Brahmana. Otomatis, ketua organisasi tersebut harus berbicara menggunakan kata-kata yang halus kepada anggotanya yang berkasta Brahmana tersebut.

Pada jaman dahulu, masyarakat Bali tidak diperbolehkan menikah dengan kasta yang berbeda. Seiring berkembangnya jaman, aturan tersebut semestinya tidak berlaku lagi. Namun sebagian masyarakat Bali masih ada yang mempermasalahkan hal tersebut.
Pernikahan dengan kasta yang berbeda kasta diperbolehkan, namun kasta perempuan harus mengikuti yang laki-laki.
Contoh :
Perempuan berkasta Brahmana ,menikah dengan Laki-laki berkasta Waisya maka kasta perempuan akan turun mengikuti suaminya. Apabila laki-laki berkasta Brahmana menikah dengan perempuan berkasta Waisya maka kasta perempuan akan naik mengikuti kasta suaminya. Semua ini karena di Bali laki-lakilah yang menjadi ahli waris untuk generasi selanjutnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar